Archive for Jepang

-Huruf Hiragana-

あ = a                 い = I                 う = u        え = e       お = o

か = ka           き = ki       く = ku      け = ke       こ = ko

さ = sa           し = si        す = su     せ = se     そ = so

た = ta          ち = chi       つ = tu     て = te       と = to

な = na         に = ni        ぬ = nu      ね = ne     の = no

は = ha         ひ = hi         ふ = hu/fu  へ = he     ほ = ho

ま = ma      み = mi          む = mu    め = me      も = mo

や = ya        ゆ = yu           よ = yo

ら = ra          り = ri            る = ru       れ = re        ろ = ro

わ = wa       ん = n

が = ga        ぎ = gi          ぐ = gu       げ = ge      ご = go

ざ = za         じ = ji/zi        ず = zu      ぜ = ze      ぞ = zo

だ = da        じ =  ji         ず = zu       で = de      ど = do

ば = ba       び = bi          ぶ = bu       べ = be     ぼ = bo

ぱ = pa       ぴ = pi        ぷ = pu     ぺ = pe     ぽ = po

Tahu Apa Kamu Tentang HARAJUKU?

DI KALANGAN anak muda, Jepang memang tak hanya terkenal karena produk otomotif dan elektroniknya yang benar-benar menguasai pasaran, tapi juga ada dunia lifestyle yang menggoda “kenekatan” anak muda. Budaya itu disebut HARAJUKU.

Menyebutnya saja sudah mengundang jeritan, apalagi kalau kita terlibat dan ikut terjun langsung dalam dunia itu. Kalau kita bicara di internet, atau buku-buku, banyak yang sudah mengupas tentang harajuku ini. Tapi apa sih sebenarnya fashion yang begitu mendunia dari Jepang ini?

Fashion Harajuku adalah bagian dari Fashion Tokyo. Disini merupakan pusat para remaja Jepang mengekspresikan dirinya melalui gaya berpakaian. Jadi disana, kita bisa melihat begitu banyak orang Jepang yang berkostum aneh-aneh. Ada yang mirip tokoh komik, Gothic dan masih banyak lagi.

HARAJUKU adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Meiji Jingū, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dōri), departement store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan tidak dicantumkan sewaktu menulis alamat.

Sekitar tahun 1980-an, Harajuku merupakan tempat berkembangnya subkultur Takenoko-zoku. Sampai hari ini, kelompok anak muda berpakaian aneh bisa dijumpai di kawasan Harajuku. Selain itu, anak-anak sekolah dari berbagai pelosok di Jepang sering memasukkan Harajuku sebagai tujuan studi wisata sewaktu berkunjung ke Tokyo.

Sebetulnya sebutan “Harajuku” hanya digunakan untuk kawasan di sebelah utara Omotesando. Onden adalah nama kawasan di sebelah selatan Omotesando, namun nama tersebut tidak populer dan ikut disebut Harajuku.

Sebelum zaman Edo, Harajuku merupakan salah satu kota penginapan (juku) bagi orang yang bepergian melalui rute Jalan Utama Kamakura. Tokugawa Ieyasu menghadiahkan penguasaan Harajuku kepada ninja dari Provinsi Iga yang membantunya melarikan diri dari Sakai setelah terjadi Insiden Honnōji.

Di zaman Edo, kelompok ninja dari Iga mendirikan markas di Harajuku untuk melindungi kota Edo karena letaknya yang strategis di bagian selatan Jalan Utama Kōshū. Selain ninja, samurai kelas Bakushin juga memilih untuk bertempat tinggal di Harajuku. Petani menanam padi di daerah tepi Sungai Shibuya, dan menggunakan kincir air untuk menggiling padi atau membuat tepung.

Di zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Pada tahun 1906, Stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote. Setelah itu, Omotesando (jalan utama ke kuil) dibangun pada tahun 1919 setelah kuil Meiji Jingū didirikan.

Setelah dibukanya berbagai department store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anan dan non-no. Pada waktu itu, kelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenakan model majalah Anan dan non-no.

Sekitar tahun 1980-an, Jalan Takeshita menjadi ramai karena orang ingin melihat Takenoko-zoku yang berdandan aneh dan menari di jalanan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan khusus pejalan kaki, Harajuku menjadi tempat berkumpul favorit anak-anak muda. Setelah Harajuku makin ramai, butik yang menjual barang dari merek-merek terkenal mulai bermunculan di Omotesando sekitar tahun 1990-an.

Di Indonesia, trend itu mulai marak juga. Di beberapa kampus yang punya fakultas sastra Jepang , biasanya sering mengadakan acara-acara yang mengupas dan membedah soal budaya Jepang term,asuk harajuku ini. Dalam perkembangannya model pakaian harajuku semakin unik, hingga tercipta kreasi baru yang berpadu dengan budaya luar, mulai dari gaya gothic, hip-hop, punk, sampai dandanan berkarakter anime.

Efek lifestyle dan fashion ini mendunia, hingga ke Indonesia dan menjadi bagian dari budaya pop urban kota. Model berpakaian ini kini menjadi trend di Indonesia.  Wajar saja kalau kemudian trend itu seperti menjadi ‘wabah’ positif untuk berkarya.

Dalam sebuah perhelatan di Bandung dan Jakarta, setahun silam, acara yang menggelar event harajuku, mampu menyedot sekitar 10 ribuan penonton yang berdatangan dengan  menggunakan kostum coplay yang ‘aneh-aneh’ dan menarik.